Banyak Alasan untuk Tidak Sholat Berjama'ah?, Ingat ini!
(Gambar/Pixabay)
Sahabat YukDakwah, masih banyak alasan untuk sholat berjama'ah?, ingat beberapa hal berikut.
Jika tidak shalat berjama'ah karena malas berjalan jauh ke masjid, maka ingat bahwa setiap langkah dihitung satu pahala kebaikan dan dihapuskan satu dosa.
“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
“Manusia paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh perjalannya, lalu yang selanjutnya. Dan seseorang yang menunggu shalat hingga melakukannya bersama imam, lebih besar pahalanya daripada yang melakukannya (sendirian) kemudian tidur.” (HR. Muslim)
Jika tidak shalat berjama'ah karena alasan sibuk dengan urusan dunia, maka ingat bahwa bagi mereka yang masih sibuk dengan urusan dunia padahal sudah saatnya melaksanakan shalat berjama'ah maka akan dibakar rumah-rumahnya.
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama’ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika tidak shalat berjama'ah karena alasan dalam kondisi tidak aman sekalipun, maka ingat bahwa Rasulullah SAW beserta para sahabat tetap shalat berjamaah walaupun dalam keadaan perang dan tetap shalat berjama'ah sekalipun banyak binatang buas dalam perjalanan.
”Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu raka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka bersamamu dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (QS. An-Nisaa’ : 102)
”Wahai Rasulullah, sesungguhnya terdapat banyak binatang buas dan binatang pengganggu di kota Madinah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Bukankah engkau mendengar ‘hayya ‘ala shalaat, hayya ‘alal falaah’?. Maka segeralah datang!” (HR. Abu Dawud)
Jika tidak shalat berjama'ah karena sakit tertentu, maka ingat bahwa orang yang buta saja tidak ada keringanan shalat berjama'ah, bahkan saat sakit parah menjelang kematian, Rasulullah SAW masih berusaha untuk tidak meninggalkan shalat berjamaah.
”Wahai Rasulullah, sesunguhnya aku adalah seorang yang buta, rumahku jauh dari masjid, dan penuntunku itu tidak cocok denganku, maka apakah aku mempunyai keringanan untuk shalat di rumah saja?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,” Apakah engkau mendengar adzan?” ‘Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu anhu menjawab, ”Ya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Aku tidak mendapatkan keringanan bagimu.” (HR. Abu Dawud)
“Aku masuk menemui ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Lalu aku bertanya kepadanya, “Maukah engkau menceritakan kepadaku sakitnya Rasûlullâh?”. ‘Aisyah menjawab, “Ya. Sakit Beliau kian parah, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah orang-orang telah mengerjakan shalat?”. Kami menjawab, “Belum. Mereka menunggu engkau”. Beliau bersabda, “Letakkan buat aku air di bejana”. Kami pun melakukannya. Kemudian Beliau mandi dan hendak bangkit. Tiba-tiba Beliau tak sadarkan diri. Kemudian Beliau siuman, lalu bertanya, “Apakah orang-orang sudah shalat?”. Kami menjawab, “Belum. Mereka menunggu engkau, wahai Rasûlullâh”. Beliau meminta, “Letakkah buatku air dalam bejana”. ‘Aisyah mengatakan, “Kemudian Beliau duduk dan mandi. Kemudian hendak bangkit, tapi Beliau tak sadarkan diri kembali. Kemudian Beliau siuman, dan bertanya,”Apakah orang-orang sudah mengerjakan shalat?”. Kami menjawab, “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rasûlullâh”. Beliau meminta kembali, “Letakkan buat aku air dalam bejana”. Kemudian Beliau duduk dan mandi. Ketika akan bangkit, Beliau tak sadarkan diri kembali, lalu siuman, dan bertanya, “Apakah orang-orang telah mengerjakan shalat?”. Kami menjawab, “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rasûlullâh?”. Sedangkan orang-orang telah duduk di masjid, menunggu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat Isya. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang ke Abu Bakar agar memimpin shalat orang-orang. Utusan datang kepadanya, seraya berkata, “Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan engkau untuk memimpin shalat”. Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai ‘Umar, jadilah engkau imam shalat bagi orang-orang”. ‘Umar menjawab, “Engkau lebih berhak untuk itu”. Maka, Abu Bakar Radhiyallahu anhu menjadi imam shalat untuk beberapa hari…”. (H.R Bukhori)
Jika semua alasan diatas diakumulasi, banyak yang tidak melaksanakan shalat berjama'ah ketika shalat subuh dan isya, maka ingat bahwa begitu besar pahala dan keutamaan shalat subuh dan isya.
“Barangsiapa shalat isya’ secara berjamaah maka seakan-akan dia melakukan shalat separuh malam. Barangsiapa shalat subuh berjamaah maka seakan-akan dia shalat seluruh malam.” (HR. Muslim)
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid), sekalipun dengan merangkak” (HR Bukhari dan Muslim).
Sahabat YukDakwah, tidak ada lagi alasan untuk tidak melaksanakan shalat berjama'ah kecuali uzhur atau alasan yang benar-benar syar'i, apalagi jika sahabat dalam kondisi sehat, mampu dan aman. Ingat semakin besar ujian dan tantangan dalam melaksanakan sholat berjama'ah maka akan semakin besar pula pahalanya.

Belum ada Komentar untuk "Banyak Alasan untuk Tidak Sholat Berjama'ah?, Ingat ini!"
Posting Komentar